Para Penghantam Agama

Para Penghantam Agama

Aku memang seorang blogger. Dalam keseharian ku di dunia maya kebanyakan orang hanya mengenal ku dalam kalimat panggilan. Hanya sedikit dari mereka yang benar-benar mengenal keberadaan ku. Bukan aku ingin menutup sebuah jati diri dan berniat menjelma sebagai seorang anonim. Faktanya jika kalian membaca lengkap biografi ku pada halaman blog ku, sedikit banyak kalian akan mengenal tentang ku.

Jelas aku bukanlah penulis. Menulis hanyalah keisengan belaka. Membaca yang menjadi kesukaan ku. Memang sesekali menulis juga sebagai bagian yang memang harus dikeluarkan. Ibarat makan, mau tidak mau aku harus BAB juga. Aku tidak mau perut ku bermasalah.

Topik yang ku baca belakangan memang sedikit ekstrem. Soal politik yang mungkin harus diet agar otak ku tidak selalu panas. Bukan karena pencinta kisah politik. Semua orang banyak membicarakan nya di berbagai laman media sosial. Jenuh menanggapinya, rasanya mulai “IYA”.

Isu politik sudah sedikit reda. Beranda media sosial juga sedikit berkurang orang berkicau. Mungkin karena aku semakin rajin melakukan penghapusan pertemanan. Tambah lagi mulai sering mengabaikan media sosial. Suka melakukan browsing halaman-halaman online. Sejumlah halaman weblog jurnalis senior juga sering aku kunjungi. Tidak ketinggalan halaman publik seperti qoura. Suka aja, banyak orang bertanya di sana. Dan yang menjawabnya juga tidak kalah menarik.

Sayangnya otak ku memang suka panas-panasan. Lepas isu politik malah membuat darah dan emosi mendidih. Ternyata negeri ku ini sangat kaya. Bukan kaya harta, tapi mulai kaya dengan manusia yang suka menghantam ajaran agama. Itu maksud ku. Soal harta, kata pejabat yang di sebelah sana negara ku ini makmur. Walau bayar BPJS yang mulai ogal-ogalan banyak dikeluhkan.

Tidak komentar di halaman weblog nya orang ternama. Halaman qoura lebih sangat lagi. Agama dinarasikan jelek banget. Katanya sih agamawan nya yang jelek, tapi tahulah kita ujung-ujungnya kampanye untuk jangan membawa-bawa agama di teriakan nya.

Aku memang hanya membaca. Berdoa juga, semoga hidayah tetap tuhan berikan kepada ku dan kepada mereka. Tapi terkadang tangan ku gatel banget ya. Sesekali menimpluk wajah si manusia setengah kafir boleh saja dong.

Manusia setengah kafir. Itu kalau mereka enggan disebut kafir. “Kalau tuhan itu memang ada, kenapa dia tidak menunjukan wujudnya agar semua orang di dunia beriman kepadanya?” begitulah manusia setengah kafir membuka narasinya untuk menghantam ajaran agama. Belum lagi pernyataan nyeletik mereka tentang sifat tuhan  yang kasih sayang. Kenapa masih ada penderitaan di dunia ini jika tuhan memang maha pemurah dan penyayangnya. Itulah katanya yang bikin otak ku naik panas emput-emputan.

Benar rasanya. Arogansi pemikiran mereka harus di kick balik kayaknya. Tapi pakai apa?. Aku juga bukan orang terpelajar, sekolah saja tidak lulus. Nyinyirin balik udah terasa hebat bagi ku. “Emang penderitaan ada ya? Bagaimana bentuknya? Bertaring kah dia, atau tanduknya lima?.” Tunjukin dong wujudnya itu penderitaan yang kalian keluhkan?. Walau komentar ku tidak mereka respon, setidaknya aku sudah senang bisa menertawakan kelompok para penghantam agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *