Mengenal Lebih Jauh Tentang Orang Banjar

Orang Banjar

Jika kita menyebutkan kata “Banjar” maka dalam alam bawah sadar kita akan tertuju pada satu nama suku yang berasal dari Indonesia. Eksistensi keberadaan suku ini semakin melebarkan sayapnya bahkan tidak hanya di Indonesia, namun juga belahan dunia lainnya, bahkan penduduk “Madagaskar” berdasarkan hasil penelitian terbaru memiliki nenek moyang dari suku Banjar.

Sebagai satu dari sekian banyak anak “Banjar” saya bangga dengan sebutan “Urang Banjar” atau orang yang berasal dari tanah Banjar.

Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak semuanya, khususnya “Dingsanak” semuanya yang sama-sama berdarah Banjar untuk kembali mengangkat dan mempelajari kebanjaran nya. Darimana dia berasal, dan bagaimana cara hidup dan beberapa sudut pandang mereka tentang tatanan kehidupan sosial yang di angkat.

Dulunya “Banjar” bukan nama suku, melainkan sebuah identitas nasionalisme kebangsaan. Mungkin ini yang harus kita catat terlebih dahulu, bahwa awalnya istilah penyebutan suku banjar bagi kalangan orang banjar sendiri tidak dikenal. Orang Banjar sendiri awalnya merujuk kepada penyebutan orang-orang yang berada di wiliyah kekuasaan kerajaan Banjar. Dimana dalam wilayah tersebut memiliki banyak sekali etnis dan sub etnis.

Orang Kalimantan pada dasarnya tidak mengenal istilah kesukuan, mereka hanya mengenal istilah bubuhan, dimana mereka akan mengidentitaskan diri mereka berdasarkan asal daerah mereka. Misalkan orang yang berada atau mendiami wilayah batang hamandit akan disebut “buhan hamandit”, atau mereka yang mendiami wilayah pesisir batang alay akan disebut sebagai “buhan batang alay”.

Penyebutan asal daerah ini berlaku bagi kebanyakan orang Kalimantan, termasuk buhan meratus, buhan barito, buhan kahayan, buhan kutai, dll. Jadi pada dasarnya orang Kalimantan tidak mengenal istilah suku Banjar, suku Dayak, atau lainnya. Mereka hanya akan mengidentitaskan diri mereka dengan penyebutan asal daerah.

Banjar sendiri merujuk pada nama sebuah kerajaan yang dulunya hampir menguasai separu dari pulau kalimantan. Kalimantan Tengah, Selatan, Timur, bahkan hingga wilayah Mindanau (Fhilipina) pernah menjadi wilayah kerajaan Banjar. Orang-orang yang tinggal dalam wilayah inilah yang kemudian di sebut dengan buhan Banjar. Ini sama seperti saat kita menyebutkan orang “Indonesia” yang memliki banyak sekali suku dan etnis di dalamnya. Indonesia bukan nama suku, tapi sebuah identitas nasionalisme kebangsaan. Orang Indonesia sendiri ada orang Banjar, Aceh, Batak, Sunda, Jawa, Bugis, Papua, dll.

Jauh sebelum Indonesia berdiri bahkan orang Banjar sudah menerapkan kebhenikaan dalam sistem kehidupan mereka. Orang Banjar memiliki banyak sekali etnis dan sub etnis di dalamnya. Ada buhan maanyan, buhan batang alay, buhan ngaju, buhan meratus, buhan hamandit, buhan barito, dll. Bahkan untuk setiap etnis di dalamnya juga memiliki sub etnis yang lebih kecil. Sitem bubuhan dalam penyebutan bahkan berlaku hingga Banjar Modern seperti sekarang ini. Misalkan penulis sendiri yang berasal dari Kandangan di sebut buhan Kandangan walau sekarang sudah tinggal di daerah lain.

Orang Banjar saat mereka berada di wilayah lain akan menyebutkan identitas mereka dengan buhan Banjar, namun saat mereka berada di tanah Banjar justru tidak akan menyebutkan buhan Banjar lagi melainkan asal daerah mereka semisal buhan Hamuntai sebagai sebuah etnis jika berasal dari daerah Amuntai. Jika mereka berada di wilayah Amuntai maka mereka tidak lagi menyebut buhan Hamuntai melainkan sub etnis yang lebih kecil lagi misalkan buhan Kalua atau lainnya.

Pertalian Banjar dengan Dayak.

Jika kita menyebutkan “Dayak” sebagai orang asli Kalimantan maka Banjar adalah Dayak, namun Dayak belum tentu Banjar.

Sebagaimana kita paparkan sebelumnya Banjar adalah identitas kebangsaan yang waktu itu merujuk kepada kerajaan Banjar. Sudah pasti mudah dipahami karena tidak semua wilayah Kalimantan berada dalam wilayah Banjar jaman dulu. Dayak sendiri di sebut sebagai nama suku juga baru-baru sekarang ini sama halnya dengan sebutan suku Banjar.

Orang Banjar yang sejatinya adalah kumpulan dari bubuhan yang kemudian melebur menjadi satu identitas inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah suku Banjar di jaman sekarang. Tidak lain mereka adalah perkumpulan dari beberapa etnis dan sub etnis yang disatukan dalam sikap nasionalisme kebanjaran. Karena itulah sangat wajar jika umpamanya kita temukan kesamaan antara Banjar dan Dayak, itu karena memang berasal dari akar yang sama yakni bubuhan.

Dari beberapa sumber yang kami pelajari menyebutkan bahwa suku dayak atau orang Kalimantan tergolong sebagai kelompok Proto Malayu atau Malayu tua, sehingga tidak mustahil jika dengan perjalanan nya memiliki hostory panjang yang menjadi latar belakang terbentuknya budaya, bahasa, dll dalam kehidupan sosialnya.

Banjar Sebagai Pemersatu Bubuhan.

Perjalanan panjang orang Kalimantan yang awalnya satu induk yang sebagai Proto Malayu pernah terpecah-pecah dalam sub etnis bubuhan, namun hal tersebut kembali disatukan dalam nuansa kebanjaran sebagai orang banjar. Tidak perduli apakah dia orang meratus, kalua, maanyan, ngaju, hamandit, batang alay, kuala, barito, dll. Sekarang mereka lebih dikenal dengan sebutan orang Banjar, sebuah pencapaian kebudayaan dan kehidupan sosial yang harus kita syukuri dan kita jaga hingga waktu kapan pun.

Orang Banjar memang memiliki satu budaya yang mungkin jarang terekspost yakni budaya madamnya. Bahkan budaya madam sudah dilakukan oleh orang Banjar sejak jaman dahulu, bahkan hingga ke pulau madagaskar. Sudah lama desus bahwa nenek moyang orang madagaskar adalah orang nusantara, namun belum jelas siapa dan dari mana asal mereka.

Ahli linguistik sejak lama menemukan bahwa bahasa yang digunakan oleh orang madagaskar memiliki kesamaan dengan bahasa dayak maanyan yang juga satu dari sekian banyak kelompok bubuhan yang terdapat dalam suku banjar. Profesor Herawati Sudoyo di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengidentifikasi orang Banjar sebagai populasi sumber dari migrasi yang menakjubkan ini. Ini sebuah penemuan luar biasa, dimana berdasarkan riset secara biologi ternyata nenek moyang orang madagaskar memang benar berasal dari orang Banjar.

Mungkin akan semakin banyak penemuan baru tentang fakta orang Banjar yang belum ditemukan oleh kalangan peneliti, sehingga sepertinya sebuah keharusan bagi kita untuk mencatat kembali perjalanan panjang orang Banjar dari satu generasi ke genari sebagai sebuah sumber referensi dan catatan penting orang Banjar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *