Pejabat Tinggi Negara di Tusuk Hakim Jalanan

Petinggi Negara di Tusuk Hakim Jalanan

Seorang pejabat tinggi di negara ini diberitakan di tusuk oleh orang yang tidak dikenal, ini saya ketahui saat ada beberapa orang yang membagikan berita seputar kejadian tersebut di media sosial. Saya tidak bereaksi, kaget juga kaga, heran juga kagak, sama halnya saat saya membaca berita lainnya di media sosial. Kita harus memilih mana berita yang memang harus kita anggap berita, dan mana yang sebaiknya kita abaikan saja. Ini soal media sosial yang memang nggak bisa kita ambil mentah-mentah.

Hal pertama yang saya lakukan adalah membaca dengan seksama keterangannya seperti apa, termasuk membaca komentar orang lain tentang berita tersebut. Komentar orang berbagai macam, dari kaget sampai pesimis. “Berani benar ya, habis itu pelakunya kalau udah masuk penjara digebukin aparat” hingga komentar pesimis “Palingan ISIS, HTI, FPI, Islam Radikal, dll yang akan disalahkan”. Komentar yang “palingan ISIS dan Islam Radikal yang disalahkan” itu membuat saya berkenyit, karena secara tidak sadar saya juga ingin memberikan komentar seperti itu.

Entah karena begitu hafal dengan kondisi kekinian atau memang sudah hafal dengan narasi yang akan dibentuk oleh media dan sejumlah netizen. Faktanya ISIS, HTI, hingga kelompok Islam Radikal itu paling sering disalahkan bahkan untuk kasus yang secara nalar tidak ada hubungan nya dengan mereka. Islam Radikal itu sudah menjadi langganan tumpuan kesalahan dan tindak kriminal di bumi pertiwi kita ini. Apa-apa itu salah mereka, apa-apa akan dituduh Islam radikal. Sebagai seorang blogger saya wajib membaca semua narasi yang dibuat oleh masyarakat, media, hingga dari yang terkait untuk mengambil kesimpulan karena saya harus objektif dalam menilai dan tidak terjebak oleh narasi orang lain.

Ada satu komentar yang cukup menarik dan saya sepakat dengan komentar ini. “Bisa jadi si pelaku melakukan itu karena kecewa atau marah dengan tindakan dan sikaf pejabat tersebut”. Saya cukup sepakat, walau setelah saya membaca berbagai berita dari sumber media yang bisa dipercaya, pelaku kemungkinan besar terpapar paham radikal. Entah kenapa perhatian saya tetap kepada kemungkinan karena marah dan kecewa dengan sikaf si pejabat tersebut. Masih ingat dong dengan pernyataan kontroversi tentang pengungsi gempa sebuah wilayah yang disebut-sebut menjadi beban negara oleh beliau, itu belum lama loh!. Apalagi sosoknya yang oleh kelompok sayap kanan di anggap salah satu jenderal sayap kiri, biang keruk beberapa permasalah di negri ini, bahkan beberapa narasi kejam lainnya hingga disebut-sebut pejabat abadi karena selalu memiliki jabatan dari presiden Soeharto hingga Pak Jokowi. Bisa kita katakan beliau itu seorang pejabat negara yang begitu kontroversi.

Hakim Jalanan.

Mau atau tidak, suka atau tidak. Masyarakat kita adalah masyarakat majmuk yang memiliki pola pikirnya masing-masing. Terlepas apa, bagaimana, dan karena apa?. Penusukan kepada pejabat tinggi negara menurut saya bukanlah sebuah tindak kriminal biasa atau sebuah kejahatan yang lumrah dilakukan oleh masyarakat kita. Penusukan atau pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain memang sudah sering dengar kabar beritanya. Tindak kejahatan oleh kelompok garis keras, seperti bom bunuh diri atau upaya teroris lainnya juga sudah lama kita dengar. Tapi upaya pembunuhan secara langsung oleh masyarakat kepada pejabat negara, ini hal baru yang kita dengar. Bahkan bisa jadi ini menjadi kasus pertama untuk era modern dan pasca demokrasi seperti sekarang ini di negara kita.

Oh tidak! alam pikir saya mengatakan ini bukan kasus sederhana. Ini menjadi sebuah babak baru perjalanan masyarakat kita. Tidak suka dengan seorang pejabat negara itu sudah biasa, paling mentoknya akan demo dan hujatan kejam lainnya di media sosial. Tapi kali ini kontak fisik brow, upaya pembunuhan. Bayangkan jika masyarakat mulai menganut sebuah sikap yang begitu terhadap pejabat negara. Kecewa, marah, tidak suka dengan sikap seorang pejabat tinggi negara maka habisi saja langsung. Weh!! ngeri benerrr ini negri kita. Hakim jalanan kepada pelaku pencopetan, maling sendal, dll sudah biasa tapi hakim jalanan buat pejabat tinggi negara? wah!!!

Semua asumsi memang sangat mungkin, bahkan bisa jadi semuanya bisa dimasukan koq. Anggap saja si pelaku adalah seorang yang memang sudah terpapar paham radikal sehingga cara berpikirnya sedikit berbeda, bom bunuh diri ajah dia rela melakukan apalagi sekedar melakukan pembunuhan terhadap orang yang dianggapnya musuh. Baginya mungkin ini sebuah perang yang sudah menghadapi jalan buntu. Tidak ada gunanya lagi demo melakukan protes turun ke jalanan, cara efektif adalah melakukan penghakiman jalanan karena si pejabat tersebut di anggapnya pantas mendapatkan nya.

Terjadinya penghakiman jalanan memang sedikit rumit untuk kita bahas secara detail. Namun secara umum bisa jadi karena rendahnya kebudayaan sosial, hilangnya nilai religius dan matinya rasa keadilan. Ini masih saudaraan dengan hukum rimba. Seseorang bisa saja melakukan penghakiman jalanan karena rendahnya nilai budaya sosial dan hilangnya nilai religius pada dirinya, emosi adalah penuntun utama setiap tindakan yang dilakukan nya. Ini yang terjadi saat seorang pencuri sendal mati babak belur dihakimi masa, apa sebab? emosi tanpa kontrol yang jauh dari nilai budaya dan ajaran agama.

Namun matinya rasa keadilan juga bisa memicu terjadinya hakim jalanan. Tidak ada keadilan yang bisa diharapkan dari negara sehingga seseorang bisa melakukan penghakiman kepada orang lain. Pernah dengar kasus pembunuhan karena istrinya berselingkuh dengan orang lain. Dia menganggap tidak ada gunanya melaporkan ke pihak berwajib, sulit baginya menemukan keadilan di sana, yang hanya akan membuang-buang tenaga dan dana belaka, kenapa tidak dihabisi sendiri saja.

Ini yang harus kita waspadai. Serius! ini bukan hujatan kepada bangsa dan negara ku sendiri, tapi sebuah kritikan dan masukan yang hendaknya kita cermati bersama. Saat masyarakat awam tidak menemukan keadilan pada sebuah badan, lembaga, hingga bangsanya sendiri. Maka hakim jalanan akan sangat rawan terjadi. Saat hukum hanya keras kepada masyarakat lemah, sementara tingkah pulah pejabat yang sangat merugikan orang banyak justru dianggap kebenaran, maka matilah rasa keadilan tersebut. Saat orang kuat berlaku seperti hukum rimba, berduit dan berpangkat selalu menang dan benar, apa yang bisa dilakukan orang awam? mereka tidak percaya lagi dengan hukum yang ada sehingga mereka akan menerapkan hukum sendiri untuk dirinya dan orang lain, dan itu adalah puncak sebuah kekecewaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *