Melabuh Asa dan Rasa

Melabuh Asa dan Rasa

Tidak perduli bagaimana tentang panas menyengat atau hujan sedang berpesta. Sejumlah bapak-bapak yang memang sejak awal menggantungkan asa mengais sebagian rejeki yang ditetapkan tuhan untuknya. Mereka tetap akan bersemangat menikmati setiap proses yang dilaluinya.

Melabuh asa dan harap. Karena sungai akan mengalir, membawa pada ujung persinggahan dimana bambu-bambu itu akan menjadi harapan akan kehidupan yang lebih baik lagi. Pria pelabuh bambu itu julukan untuk mereka, yang mengais rejeki dari penjualan bambu yang dihanyutkan di sungai-sungai menuju darmaga.

Saat masih kecil dulu. Saat air sungai masih menampakkan dasarnya yang berpasir dan bebatuan. Kami berlarian kehulu, menunggu sederit bambu rakit yang dihanyutkan sekedar untuk menumpang. Jika dirasakan cukup jauh hanyut kehilir, kami pun berhamburan menceburkan diri dan kembali berlari kehulu untuk melakukan hal yang sama. Entahlah! Kesenangan apa yang didapatkan, namun rasanya itu akan menjadi salah satu kenangan terindah anak-anak pedalaman Kalimantan seperti kami.

Aku tak pandai menulis. Sulitnya rasanya merangkai setiap kalimat yang sejalan dengan nalar dan pikiran bebas seorang Ais seperti ku. Hanya kadang alam tak sadar ku sering mengajak berkelana, membuat alur cerita yang memang susah dipaparkan. Setiap persinggahan bagi ku sama saja dengan tujuan. Mungkin itu yang membuat ku enggan berpacu dengan waktu. Aku menjadi penikmat sebuah proses perjalanan hidup, karena jika seni untuk kita nikmati maka hidup kita adalah seni terhebat. Sebuah seni yang dibuat oleh pencipta taqdir, suka atau tidak maka akhirnya akan berujung jua. Entah mau atau tidak skenarionya sudah selesai, dan kita hanya bertaruh asa sambil berharap dengan rasa.

Hari ini aku ingin melabuh asa dan rasa. Di bawah pohon peneduh yang berdaun kecil, bukan beringin atau ficus. Ku tahu negri ku menjerit, air sungai itu tak lagi jernih karena hulunya telah rusak. Entah alam tidak bersahabat atau karena tangan nakal yang tidak lagi tahan berkurik dengan serakahnya.

Ibu pertiwi kita mungkin sudah mati, semati rasa kemanusian dan keadilan di sebuah negri yang tidak lagi bertuan. Apakah pejuang akan mati sia-sia, atau justru negri ini sedang bertaruh menunggu pejuang muda yang menantang bersua di depan penguasa yang doyan membabat uang yang harusnya buat sejahterakan rakyat.

Negri ini ku pikir jalannya tertatih, semoga itu hanya pemikiran sesaat belaka. Gedung megah di seberang nampak berbaris dengan rapi, membayangkan nya saja akan menggambarkan kemegahan kota sepuluh hingga dua puluh tahun ke depannya. Pengap… hutan peneduh tak lagi menghijau, tergantikan kaca dan semen yang keras semakin membatu. Ruang bercerita, menunjuk dan memaki si kaya yang berpaling muka menatap sang miskin yang mengiba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *