Manusia Kanibal Modern, Ada Banyak di Indonesia

Manusia Kanibal Modern

Jika kita membicarakan manusia kanibal, mungkin yang terbayang oleh kita adalah sekelompok manusia jaman dulu yang jauh dengan yang namanya peradaban.

Kanibal, dalam artian makhluk yang memakan sejenisnya. Misalkan ada anjing memakan anjing, maka anjing tersebut dinamakan kanibal. Bahkan, katanya ada manusia kanibal di dunia, salah satunya Sumanto yang masih katanya pernah mencuri mayat seorang nenek untuk dijadikan tumbal ilmu hitam.

Jika kita membaca cerita atau berita tentang orang-orang yang sakit jiwa seperti itu, rasanya ngeri juga ya? hilangnya jiwa kemanusiaan sehingga bisa dikatakan mereka layaknya binatang yang menakutkan. Menakutkan karena pada dasarnya akal mereka masih sehat, namun jiwanya sakit sangat parah.

Manusia Kanibal Modern.

Di jaman modern sekarang pun kanibal ini semakin banyak, hanya saja bukan dalam artian seperti penjelasan di atas. Mereka adalah manusia modern yang katanya memiliki peradaban maju dan sangat pintar.

Bagaimana bukan manusia pintar? bahkan diantaranya ada yang sarjana, magister , hingga bahkan menjadi doktor. Namun sayang, kepintarannya tidaklah lebih menjadikan mereka manusia yang memiliki peradaban manusiawi. Mereka masih suka memakan bangkai saudaranya sendiri.

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Dalam surah Al-Hujurat ayat 12, Allah mengumpamakan orang yang menggunjing saudaranya sendiri seperti sedang memakan bangkai saudaranya sendiri.

Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).

Semua umat muslim hampir semuanya mengetahui larangan menggunjing aib, kehormatan saudara seagamanya atau orang lain. Namun fakta nya semakin canggih kehidupan manusia, menggunjing bukanlah hal sulit kita temukan. Lihat saja kehidupan dunia sosial online saat ini, tidak sulit kita menemukan orang yang menshare aib orang lain dan memberikan narasi menjelek-jelekkan karena berbagai alasan mereka.

Jaman dulu gunjing menggunjing atau ghibah menjadi tradisi ibu-ibu di kampung-kampung kalau sudah ngumpul. Entah suami si A yang kulitnya hitam, atau rumah tangga si B lah yang suka berantem. Tapi sekarang, mau tua atau muda, mau wanita atau laki-laki, ghibah mulai menjadi tradisi. Apalah lagi di musim kampanye pemilu, wow jangan di tanya. Fitnah, ghibah, namimah itu sulit membedakan nya. Atau bahkan diaduk menjadi satu yang menjadi sebuah ujaran kebencian.

Bangkai Beracun Juga di Makan.

Al-Hafidz Ibnu Asakir dalam “Tabyin Kadzib Al-Muftari” hlm. 29 berkata:

” واعْلَمْ يَا أخِي، أَنَّ لُحُومَ العُلَماءِ مَسْمُومَةٌ، وَعَادةُ اللهِ في هَتْكِ أسْتَارِ مُنْتَقِصِيهِمْ مَعْلُومَةٌ، لأنَّ الوَقِيعَةَ فِيهِمْ بِمَا هُمْ مِنْهُ بَرَاءٌ أمْرُهُ عَظِيم ٌ، والتَّناوُلُ لأعْراضِهِم بالزُّورِ والافْتِراءِ مَرْتَعٌ وَخيمٌ ، والاختِلاقُ عَلَى من اخْتارهُ اللهُ مِنْهُم لِنَعْشِ العِلْمِ خُلُقٌ ذَمِيمٌ “.

“Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya daging para ulama itu beracun (menggunjingnya adalah dosa besar), dan kebiasaan Allah dalam menyingkap kedok para pencela mereka (ulama) telah diketahui bersama. Karena mencela mereka dengan sesuatu yang tidak ada pada mereka, merupakan petaka besar, dan melecehkan kehormatan mereka dengan cara dusta dan mengada-ada merupakan kebiasaan buruk, dan menentang mereka yang telah Allah pilih untuk menebarkan ilmu, merupakan perangai tercela”.

Yang lebih parah lagi, fitnah, ghibah, dan adu domba juga dilakukan bukan hanya kepada orang awam tapi para ustadz, ulama, dan para habaib (anak cucu Rasulullah SAW).

Hanya karena tidak sependapat dengan seorang ulama atau ustadz maka jurus membandingkan ulama yang ini dengan yang itu dilakukan.

“Ustadz… bagaimana pendapat anda dengan ustadz yang itu, dia mengatakan begini dan begitu ustadz?”

Prett lah, kenapa prihal ulama lain ditanyakan kepada ustadz lainnya dalam forum orang banyak. Mau adu asah kah? mau membandingkan keilmuan seorang ulama kah?

Apakah tidak lebih bijak jika ditanyakan saja satu permasalahan tanpa harus membandingkan atau menyebutkan pendapat ulama lainnya. Sehingga jauh dari kesan membandingkan, memprovokasi, dll.

Ilmu agama sangatlah luas, para sahabat saja bisa berbeda pendapat padahal mereka sama belajar langsung kepada Rasulullah SAW. Apalah lagi banyak kita temukan orang mencibir ulama dan habaib yang tidak sependapat dengan nya.

Ghibah: membicarakan keburukan orang lain yang dia tidak suka kalau mendengarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *