Kenapa Harus Pesantren, Mau Jadi Ustadz?

Kenapa Harus Pesantren

Terima kasih sebelumnya bagi kalian yang sudah berkenan membaca tulisan gue khusus yang ini. Akan lebih terima kasih lagi kalau kalian juga mau berbagi cerita dengan gue di kolom komentar. Aku mau mengajak kalian bernostalgia dengan sedikit kenangan masa lalu ku. Semoga ini akan menjadi sebuah pelajaran dari kesimpulan catatan kecil ini.

Saat seseorang memutuskan sekolah dimana, dengan jurusan apa, dan apa saja yang mewarnai hingga memutuskan sekolah di situ. Tentu ada alasan dan yang menjadi sebab kenapa. Ada yang sekolah dan kuliah di jurusan keperawatan karena pengen dan memang memiliki cita-cita menjadi perawatan. Ada juga yang karena dorongan dari orang tua dan keluarga. Hingga ada yang cuman ikut-ikutan kawan nya.

Semua alasan sah-sah saja dong! enggak ada yang salah selama kemudian itu dilakukan dengan betul-betul. Mungkin ada yang sebenarnya dipaksa sekolah dan mengambil jurusan, walau sebenarnya dia kurang suka. Namun kemudian dengan sejalan waktu dia malah menikmati dan bersyukur karena dulu ada yang maksa.

Gue dulu setelah lulus sekolah dasar langsung masuk ke pesantren tanpa di pinta oleh siapa pun. Orang tua gue juga bukan dari kalangan yang agamis banget, hanya saja kebetulan abang gue yang pertama masuk pesantren maka akhirnya saudara-saudaranya juga masuk pesantren. Bisa dikatakan gue masuk pesantren awalnya karena cuman ikut-ikutan abang gue.

Saat sekolah dasar gue tergolong pintar (bukan sombong). Bahkan gue ditawarin sekolah di sekolah-sekolah pemerintah yang mana pun dengan jaminan dapat biaya siswa full. Pada waktu itu jaman nya pak harto, dimana ada biaya siswa bagi murid berprestasi/pintar. Guru saya yang dengan langsung menawarkan akan mengruskan semua administrasinya, sekolahnya dimana itu tergantung aku milihnya dimana.

Enak loh! di kasih biaya siswa yang artinya sekolah gue gratis total pada waktu itu. Tapi lucunya gue malah tidak tertarik, sampai abang gue nyaranin sekolah madrasah saja karena masih ada pendidikan agamanya dan masih bisa mengajukan biaya siswa tersebut. Namun gue tetap ngotot masuk pesantren, walau tanpa alasan dan tidak tahu tujuan.

Apakah saat itu gue punya cita-cita jadi ustadz? tidak juga. Dan sekarang gue nyaranin buat kalian yang mau nyantri jangan terbesit mondok di pesantren biar jadi ustadz atau kehormatan duniawi lainnya. Itu sama saja kalian pengen meruntuhkan agama Islam. Bukan gue yang ngomong begitu, tapi alghazali dalam kitab Maraqi Al ubudiyah karya Syekh Nawawi Albantani kalau tidak salah ingat.

Pesantren Bukan Soal Duniawi.

Kalau kalian mau jadi orang sukses, banyak duitnya, hidup terhormat, dll. Maka sekolah dan kuliah lah sesuai jurusan yang potensial, entah itu sekolah kedokteran, kuliah di jurusan politik biar bisa jadi pejabat, atau lainnya.

Mondok di pesantren itu biar kita bisa jadi manusia yang tau mana halal dan haram, mana perintah dan larangan tuhan, hingga akhirnya tahu mana jalan menuju Allah dan menggapai keridhoan nya. Menjadi insan yang bertaqwa adalah tujuan kita mempelajari ilmu agama, bukan jadi ustadz atau kedudukan terhormat lain nya.

Walau pun seandainya jika tidak ada aral melintang, jalan kaki justru membawa kita menjadi seorang ustadz atau tenaga pendidik maka jadikan itu sebagai amanah yang dititipkan sebagai sebuah kewajiban untuk menyampaikan kebenaran. Bukan tujuan kita, melainkan karena kehendak Allah yang menjadi pemilik taqdir. Kita tidak tahu nasib orang, entah di kampung kita memang minim orang yang paham agama sehingga suka atau tidak, kita yang alumni pesantren harus maju menjadi tenaga pembimbing umat sebagai sebuah kewajiban tanpa pilihan.

Gue masih ingat saat ngaji Kitab Maraqi Al Ubudiyah Syarah ‘ala Bidayatul Hidayah. Guru kami berujar “Siapa yang mau jadi tuan guru, atau ustadz maka silahkan keluar”. Karena kami para santri sangat takjim kepada beliau maka tidak ada satu pun yang berani menjawab. Setelah diam beberapa saat barulah beliau meneruskan bacaan beliau “Barang siapa menuntut ilmu agama karena ingin di hormati, berbantah-bantahan tentang ilmu agama, ingin diunggulkan dari yang lainnya, maka sesungguhnya dia telah meruntuhkan agamanya” kurang lebih begitu.

Ada sekitar 30an lebih yang satu kelas dengan gue saat itu, hingga sekarang setelah kita lulus dan bertebaran entah kemana. Gue tidak mendengar salah satu dari mereka ada yang jadi tuan guru atau ustadz. Ada yang jadi petani kebun, pedagang, hingga penulis blog acak kadut seperti saya. Bukan karena mereka buta ilmu agama, bukan karena mereka tidak pandai baca kitab kuning, bukan karena ilmunya tidak berguna, melainkan mengamalkan ajaran tersebut.

Ada sebagian guru kami yang berujar “Kalau kalian mau mengajar entah itu sebagai ustadz, maka sebelum mengajar pastikan dulu kalian menjadi orang kaya atau minimal punya usaha dan penghasilan buat kalian dan keluarga. Itu agar saat mengajar kalian tidak mengharap imbalan/upah”.

Alhasil …

Kenapa gue nulis ini yang sedikit serius juga. Karena ada banyak kesalahan persepsi di kalangan masyarakat kita. Sekolah di pesantren itu untuk jadi tuan guru atau ustadz. Bahkan terkadang kalau ada santri lulus pesantren tapi kehidupan kaya orang awam, maka langsung di cibir sambil berujar “Lulusan pesantren koq gitu” “Lulusan pesantren koq kayak orang awam ajah” atau “Saya mau masuk-kan anak saya ke pesantren ah biar nanti jadi ustadz”.

Sejak kapan lulusan pesantren harus jadi ustadz? ada ratusan ribu alumni pesantren, yang terpaksa jadi ustadz karena kebutuhan masyarakat ada berapa sih?

Masuk-kan anak-anak kita ke pesantren agar dia menjadi manusia seutuhnya. Berapa banyak sekarang ini manusia yang wujudnya manusia tapi laku gawinya seperti binatang, hanya menurutkan nafsu syahwatnya saja. Berapa banyak pejabat berwujud manusia tapi serakahnya melebihi syaithon. Bersumpah di bawah Alqur’an tapi rasa takutnya kepada Allah sudah mati.

Ilmu agama itu sangat penting untuk mempersiapkan bekal kita di akhirat. Setinggi apapun pendidikan duniawi kita, pada akhirnya mentuk setelah kematian tiba jika tidak didampingi pengetahuan agama. Namun sebaliknya, serendah apapun pendidikan agama kita dia akan menjadi manfaat, minimal sebagai benteng diri sendiri dan penerang buat anak istrinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *