Jangan Cemburu! Aku Sayang Dia dan Kamu

Jangan Cemburu

Hidup keluarga ku bisa dikatakan sederhana. Bukan dari kalangan kaya, namun bukan juga dari faqir hampa yang sama sekali tidak memiliki daya. Aku mungkin tidak cukup berada, tapi pantang bagi ku berlaku dhuafa. Kita mungkin miskin tapi tidak mesti harus mengiba, karena mur’ah seorang hamba terletak pada sebuah laku yang diterapkan nya dalam kehidupan. Kemiskinan bukan aib, tapi jika kita terlalu menghambakan diri kepada orang kaya maka kehormatan kita sudah pasti tak berguna.

Secara umum kehidupan kami apa adanya, tapi aku menerapkan pola hidup untuk tidak khawatir akan rejeki yang memang sudah tuhan atur untuk hambanya. Dalam kehidupan aku punya keyakinan bahwa setiap makhluk hidup punya rejekinya sendiri-sendiri, rejeki pasangan kita, dan anak-anak kita, atau mereka yang tinggal dengan kita bukanlah karena kita. Mereka sudah membawa rejekinya masing-masing. Sehingga sebuah kesalahan fatal jika kita takut memiliki anak lebih karena khawatir tidak bisa memberikan nya kehidupan. Aneh jika kita merasa terbebani dengan bertambahnya orang dalam rumah kita, seolah-olah kitalah yang memberikan mereka kehidupan. Terus TUHAN kemana?

Tak risaulah kata-kata orang lain tentang hidup kita, selama jalannya benar tuhan pasti meridhoi kehidupan dalam rumah tangga yang kita bina. Disanalah pentingnya kita memahami syariat, dan pemahaman rahasia dibalik sebuah aturan yang dibuat oleh tuhan semesta.

Aku masih ingat beberapa hari yang lalu tentang bagaimana hadir seorang gadis baru dalam rumah kami. Namanya “Nafisah” nama yang cukup cantik bukan? secantik orangnya. Awalnya aku kira dia bermata sipit, ternyata matanya cukup lebar dengan wajah yang sedikit bulat tapi ada ovalnya. Tentu sedikit berbeda dengan istri ku yang pernah aku nobatkan sebagai wanita tercantik setelah ibu ku sendiri tentunya.

Hari itu udara cukup panas, walau masih ada kabut-kabut tipis karena kemarau tahun ini menyebabkan kebakaran lahan dimana-mana. Orang ribut! tidak sedikit yang menyalahkan para pekebun yang membakar lahan untuk membuka lahan perkebunan. Walau membakar lahan sudah lama dilakukan oleh mereka dalam kurun abad sebagai sebuah tradisi lokal, tuh kabut tebal baru belakangan ini terjadi. Entah benar karena olah para petani kebun atau justru karena hal lain.

Istri baru saja pulang kerja pagi itu dengan ku jemput sendiri karena sehabis dinas malam hari, ya! belakangan aku lebih sering mengantar dan menjemputnya kerja karena kondisinya yang sedang hamil. Sebagai seorang perawat di sebuah Instlasi Gawat Darurat pada rumah sakit kenamaan di daerah kami. Kesibukan dan beban kerjanya cukup berat, apalagi dengan kehamilannya itu. Aku sengaja mengalah dan meluangkan waktu ku untuk memperhatikan nya. Aku bahkan sudah sering menawarkan nya untuk berhenti kerja jika sudah merasa tidak mampu lagi dengan kesibukan yang menurut ku “WOW” itu.

Dengan pekerjaan nya itu, aku sendiri memang cukup memahaminya. Antara panggilan nurani sebagai tenaga medis dan tekanan kerja yang luar biasa. Kadang kalau sedang dinas pada malam hari, maka besoknya sangat jelas terlihat lelahnya. Sedikit berbeda dengan perawat yang ada di ruangan, perawat IGD memang full aktivitas bahkan hampir tidak sempat untuk duduk sebentar jika kebetulan banyak pasien yang masuk rumah sakit. Mungkin karena itulah aku sangat menyayanginya, wanita tangguh dengan pekerjaan yang cukup melelahkan namun masih sempat meluangkan waktu membesarkan anak-anak ku. THANKS you sayang…

Mungkun di lain waktu aku akan bercerita banyak tentang pekerjaan perawat IGD yang menurut ku “Begitu lah!!”. Dan semoga saja ini bukan awal lahirnya cerita bersambung …

Siang itu sebenarnya sama dengan hari sebelumnya, istri ku banyak bercerita tentang bagaimana nuansa di tempat kerja, tentang padatnya pasien, kondisi pasien yang beraneka ragam, hingga kondisi kehamilannya yang malam itu mengalami kontraksi kecil. Memang bebera minggu ini aku selalu mewanti-wantinya untuk menjaga kandungannya, karena waktu kelahiran sudah semakin dekat. Sekecil apapun kontraksi yang terjadi supaya dicerikan kepada ku. Saat itu aku tidak menaruh curiga sama sekali, sampai saat dia berada berada di kamar kecil memanggil-manggil aku. Saat ku tanya dia hanya bilang ada sedikit sakit pada perutnya. Aku pun menawarkan untuk ke rumah sakit, dan dia jawab nanti dulu dengan nada keraguan. Aku melihat jelas ada keraguan dalam benaknya, dan kecurigaan ku begitu kuat entah karena alasan apa? padahal kontraksi kecil adalah hal wajar sebelum masa melahirkan. Memang tidak ada tanda-tanda akan melahirkan, melainkan pirasat ku saja yang begitu kuat.

Setelah cukup lama berpikir tanpa ada keputusan dari istri ku, akhirnya aku yang memutuskan untuk membawanya kembali ke rumah sakit. Ku pesan taksi online menggunakan aplikasi seluler, akhirnya aku memasukkan sejumlah pakaian dan pekakasan bayi dan ibu melahirkan seadanya. Semua dilakukan dengan sangat cepat, yang ternyata kemudian barulah ku tahu kalau aku banyak salah bawa barang haha…

Pukul 12 lewat beberapa menit kami sampai di rumah sakit, dan setelah melakukan pemeriksaan kandungan oleh teman sejawatnya di IGD dari bidan yang dinas waktu itu nyatalah sudah bahwa waktu melahirkan sebentar lagi. Yeyyy!! antara senang dan was-was juga mendengarnya. Walau ini proses melahirkan yang ke 3 kalinya pada istri ku, tapi jelaslah di wajahnya ada kekhawitaran yang cukup kuat. Aku terus menemaninya tanpa pihak keluarga lainnya hingga pukul 15.50 seorang gadis cantik lahir kedua dari rahim istri ku dengan penuh perjuangan.

Gadis cantik itu akan menjadi gadis ke 4 dalam rumah kami selain ibu dan 2 kakaknya yang juga para bidadari cantik. Setidaknya mulai saat itu “Nafisah Zahra” akan menjadi cewek ke 4 yang mengelilingi kehidupan ku untuk hari-hari selanjutnya, semoga menjadi anak sholehah ya sayang.

Nafisah Zahra” adalah gadis cantik yang lahir ke dunia yang di sambut oleh ku dan beberapa bidan yang membantu proses melahirkan, tanpa lainnya. Di kota ini istri ku dan aku sendiri memang sebenarnya masih punya keluarga, tapi hidup kami berasa sendirian. Ibu ku sendiri tinggal di kota lain, sementara ibu mertua ku justru tinggal di negara lain. Kami benar-benar dipaksa untuk hidup mandiri. Susah senang, kenyang dan lapar akan selalu menjadi rahasia ku dan keluarga kecil ku.

Hidup sederhana dengan ala kadarnya membuat kami takut memiliki banyak keluarga dan teman. Kami tidak bisa memberikan banyak hal kepada mereka, sehingga berasa kezholiman jika kami hanya akan menyusahkan mereka. Untuk bisa bertahan hidup saja itu sudah cukup Alhamdulillah bagi kami sekeluarga.

Ada saat dimana kita merasa memiliki banyak teman dan keluarga adalah sebuah kezholiman, karena kita tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan untuk mereka.

Kecemburuan Sang Kakak.

Hadirnya gadis baru dalam kehidupan kami tentunya memberikan warna lebih, isakan tangis seorang bayi kecil kadang jadi alunan tersendiri. Ibunya adalah orang yang paling direpotkan mungkin. Aku juga hanya bisa membantu semampu ku untuk si kecil, sementara pemeran utamanya tentu saja tetap istri ku tercinta. Semoga tuhan selalu memberikan kesehatan dan kepada mu.

Ada kejadian-kejadian lucu yang mewarnai keluarga kami, dan ini mungkin hal biasa. Saat salah satu dari anak-anak cemburu kepada saudaranya. Misalkan saat yang nomor 2 cemburu pada saudara tertuanya. “Ulun indah bisi kaka, handak ading haja” “Saya nggak mau punya kaka, maunya dede aja” hehe atau saat dia marah “Abah kada sayang” Ayang nggak sayang katanya karena cemburu sama adeknya.

Sebagai orang tua tentu kita harus bijak menyikapi sikap anak-anak, berbagi kasih dengan adil memang sulit, apalagi menjaga perasaan mereka agar tidak ada yang merasa di kerdilkan dalam urusan kasih sayang. Itulah kenapa aku lebih sering mengatakan “Sayang semuanya” untuk meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang diutamakan di antara mereka, karena semuanya utama di hati ayah mereka. Lumayan membuat istri ku tersenyum kecut melihat tingkah laku mereka.

Kecemburuan mungkin hal yang wajar mengingat ada gadis baru dalam keluarga kami, tapi aku percaya mereka akan hidup rukun karena aku selalu mengajarkan dan memperlakukan mereka tanpa pernah membedakan, bahkan kepada anak pertama yang sebenarnya adalah anak tiri ku. Aku lebih suka menyebutnya sebagai anak ku sendiri dari pada anak istri ku, itulah kenapa aku punya tidak puteri yang cantik. Hanya agar dia tidak merasakan bahwa dia adalah anak tiri ayahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *