Catatan Pemilu 2019, Sebuah Penyakit Kebodohan

Money Politik

Alhamdulillah kita panjatkan selalu pujian kepada Allah SWT, tuhan segala alam semesta. Kita harus senantiasa bersyukur kepada ilahi tentang apapun yang terjadi karena pada hakikatnya semua kejadian yang menimpa diri kita, keluarga kita, dan bangsa kita hakikatnya adalah karunia darinya.

Kita baru saja melewati sebuah festival 5 tahunan, sebuah pesta rakyat dimana kita memilih wakil kita dan yang akan memimpin kita 5 tahun mendatang. Dan alhamdulillah semua berjalan dengan damai terlepas semua kekurangan yang terjadi di sana sini. Tapi bukan itu yang saya maksud, namun ternyata waktu yang kita lewati terus melangkah maju tanpa perduli apa yang sudah terjadi selama ini. Kita ternyata sudah melalui satu masa kepemimpinan sebelumnya, yang padahal pemilu 2014 seolah masih dalam bayang-bayang ingatan kita, dan sekarang kita mengikuti kembali pemilu di tahun 2019.

Kita harus belajar memberikan makna dan berbenah jika dirasakan ada yang kurang selama ini. Pada artikel ini lebih kepada catatan saya tentang pemilu 2019 yang sangat-sangat menguras energi kita. Hiruk pikuk perjalanan bangsa, negara, dan rakyat kita harus dijadikan pelajaran bagi siapa saja di kemudian hari. Karena itulah ini menjadi catatan saya.

Bangsa Ini Terlalu Besar Jika Kita Ingin Berjuang Sendirian.

Indonesia itu bukanlah sebuah negara yang hanya memiliki satu dua kota saja. Bahkan ada ribuan pulau, ribuan suku, ratusan ribu masyarakatnya yang memiliki kemampuan dan cara hidup yang berbeda-beda. Terlalu besar jika kita ingin memikul sebuah cita-cita untuk bangsa dan negara kita.

Satu sisi besarnya bangsa kita ini menjadi tantangan tersendiri buat kita putera puteri bangsa, namun semua tantangan itu bukan untuk di pikul sendiri. Untuk membangun bangsa yang besar ini kita harus memiliki modal yang kuat, dan modal tersebut adalah kebersamaan dan persatuan untuk menuju kearah yang lebih baik.

Kebodohan Adalah Penyakit Bagi Sebuah Masyarakat, Bangsa, dan Negara.

Pemilu 2019 bukan tanpa cacat. Pelaksanaan pemilu tahun ini bahkan terasa sangat melelahkan, sementara masih banyak kita temukan kekurangan yang terjadi di berbagai sektor. Kita banyak mengkritisi pemerintah dalam banyak kebijakan setiap rezim yang berkuasa. Kita banyak menyumpah serapah ke sejumlah elit politik yang dengan senangnya mengkorupsi uang negara. Namun kita abaikan bahkan cenderung menikmati kelelaian dan penyakit yang terjadi disetiap kali pesta demokrasi yang kita lewati.

Money Politik di depan mata kita saja kita abai. Kebodohan sekelompok orang yang menjual suara hanya demi sedikit sekali rupiah kita abai. Kita nyaman dengan ungkapan keputus asaan “Siapa pun yang jadi, kita tetap harus cari makan sendiri”.

Kita nyaman saja saat mendengar ada calon anggota dewan membagikan uang suap untuk memilihnya. Kita tidak perduli dengan halal haram uang sugukan, yang itu akan menjadi darah daging kita dan anak cucu kita. Kita malah senang ada partai yang mau membeli suara kita, sementara kita meronta dengan kebijakan mereka yang menghimpit kita.

Kebodohan itu nyata kawan!!! dan itu menjadi penyakit bagi sebuah masyarakat, bangsa, dan negara kita. Silahkan anda tidak suka dengan istilah yang saya gunakan bahwa kebodohan itu penyakit masyarakat, bangsa, dan negara. Tapi, itu nyata. Dan kesalahan terbesar kita adalah kita abai dengan yang namanya penyakit kebodohan.

Jika kita ingin melihat bangsa dan negara kita maju, ingin melihat masyarakat kita nyaman, damai, dan sejahtera. Maka, rasanya tidak ada jalan lain kecuali menyadarkan saudara kita dari sebuah kebodohan. Dan itu tidak bisa kita lakukan sendirian, harus ada kerja sama bahu membahu memberantas kebodohan pikir, cacat logika, dan kawan-kawannya. Mungkin ini akan membutuhkan waktu yang lama, dan sangat melelahkan, namun tetap harus dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *